Tanjungpinang, Mataperistiwa.id – hingar bingar pembangunan kawasan tepi laut memberi suasana baru bagi warga kota Gurindam. Bahkan salah satunya adalah Anjung cahaya. Destinasi kuliner ini yang dulu ramai kini justru sepi. Dulu sebelum dibangun berupa kios-kios, ramai dikunjungi para pedagang pun memenuhi setiap sudut. Bahkan tersedia layar sebagai penarik. Untuk nonton bareng (nobar) pertandingan bola.
Namun kemudian area itu disulap menjadi bangunan permanen berbentuk kios dengan dalih agar pedagang lebih nyaman berjualan. Namun selama ini pedagang tidak mempermasalahkan tersebut. Terlebih Anjung Cahaya dikelola oleh badan umum milik daerah (BUMD) Tanjungpinang.
Dan kenyamanan pedagang mulai terusik dengan kehadiran cafe red Devil ditengah anjung cahaya yang mengunakan fasilitas umum (fasum) berupa gazebo. Kemudian hadir lagi cafe RS yang berdiri dibelakang kios-kios para pedagang.
Kehadiran 2 cafe ini menurut para pedagang sangat menganggu terutama sound sistem yang hidup dengan volume yang besar. Menurut Para pedagang mereka sudah pernah mencoba menegur minta volume dikecilkan tetapi mendapat penolakan. “Kami sempat mau berkelahi gara-gara itu. Mereka bilang, mereka dapat izin dari BUMD juga”, aku mereka, Senin (25/6).
Kemudian yang semakin membuat para pedagang ini resah munculnya surat dari Bumd terkait sewa kios dengan variasi harga. Untuk penjual makanan dikenakan tarif Rp 555.000 ribu sedangkan penjual minuman Rp777.000.
Hak ini dirasakan berat oleh para pedagang karena diwajibkan bayar tiap tanggal 10 setiap bulannya. “Seharusnya BUMD bisa lebih bijak, yang datang ketempat kami ini seberapa. Tidak sebanding dengan yang kami jual. Contoh kalo kami jual makanan modal sudah berapa dan itu barang pasti busuk kalau tidak habis,” tukas para pedagang ini berapi-api.
Mereka mengaku sudah melayangkan surat ke BUMD namun tidak ditanggapi sudah memasuki bulan ketiga dari dimasukannya berkas tersebut. Dan kini mereka menaruh harapan kepada PJ walikota yang baru, Andri Rizal siregar untuk mau menerima mereka mendengarkan apa keluh kesah para pedagang tersebut. “Katanya mau membangkitkan pedagang UMKM, kalau seperti ini namanya mematikan kami perlahan”, Tukas Yuni kesal.
Sayangnya, pihak BUMD dikonfirmasi media ini, Selasa (26/6), Dirut BUMD windrasto Dwi Guntoro tidak berada ditempat. Kemudian media ini mencoba bertanya kepada pegawai yang ada dikantor siapa yang bisa ditanya tentang pedagang anjung cahaya dijawab sedang keluar alias tidak berada ditempat. Belum puas lanjut naik kelantai 2 dan bertemu dengan 2 perempuan dan menjawab hal yang sama. Mereka masih menjawab itu bagian pengawasan tetapi tidak ditempat. Kemudian kedua ditanya siapa admin dari BUMD yang membuat grup pedagang anjung cahaya dan mengingatkan pedagang soal sewa kios, keduanya menjawab bahwa mereka semua memegang admin secara bergantian. Dilema, sebab pedagang pun mengeluh di wa grup dengan adminnya orang BUMD tetapi tidak ditanggapi. Kini anjung cahaya sepi dan hampir semua kios dipasang segel.
Reporter: Leni H**




